Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

October 02, 2016

Bertukar Proposal


Contoh Real Proposal Taaruf :D




Yap finally sampai juga di pembahasan tentang tahapan – tahapan taaruf. Sebelum membahas jauh lebih dalam, there are things we should keep in mind.

  1. Keep syar’i. Karena yang dicari ridho Allah, jadi sebisa mungkin dilakukan dengan syar’i, sesuai hukum dan syariat Allah. Jangan sampe udah pusing pusing dan ribet pake taaruf, kontennya masih berisikan hal-hal nyeleneh. Nyeleneh contohnya : mengfungsikan taaruf sebagai pacaran syari
  2. Nobody is perfect. d’massive sering ngingetin bahwa tak ada manusia yang terlahir sempurna. Jadi, jangan sampe punya niat mencari pasangan yang sempurna via taaruf, karena mohon maaf lahir batin, ngga ada manusia yang kayak gitu, wkwk
  3. Be honest. Diusahakan dalam proses tahapannya, kita selalu jujur. Jujur sama Allah, jujur sama diri sendiri, jujur sama orang tua, jujur sama mediatornya, jujur sama lawan taarufnya. Kalau ngga jujur nanti repot sendiri dibelakang
  4. Pasrah dan ikhlas dalam setiap prosesnya, kalau jodoh berarti lanjut tiap tahapan, kalau salah satu ada yang memutuskan untuk berhenti, jangan kecewa atau malah jadi benci, (ini kasus terjadi biasanya pada seseorang yang udah klik sama lawan taarufnya, sedangkan si lawan ngga merasa kayak gitu) .
Okay, without further ado, ini dia tahapan tahapan taaruf

  • Tukeran proposal
  • Sesi Q&A (Tanya Jawab)
  • Kopi Darat
  • Nembung
  • Khitbah
  • Nikah
Simpel dan ngga ribet kaaan sebenernya?
YUP.


Tapi, untuk kesempatan kali ini akan dibahas lebih jauh dulu tentang :

Bertukar Proposal 


‘Proposal’ dalam taaruf itu artinya biodata, jadi buat yang parno denger kata ini karena horror-paska-skripsi, well take it easy guys. Ngga sesusah bikin proposal penelitian, hibah bersaing, proposal pkm, apalagi proposal skripsi. Jauuuuh. Proposal atau biodata singkat ini lebih mirip kayak CV sebenernya, tapi dengan kesan yang less formal dan berbentuk seperti narasi, bukan poin poin. Lebih mirip who am I (kalau yang mentoring biasanya bikin lembar who am I, jadi pasti lebih ada bayangan).

Apa aja isi proposalnya?
Semacam biodata singkat yang berisi

  •        Nama,
  •        TTL
  •        Email,
  •        Pendidikan
  •        Prestasi
  •        Pengalaman Organisasi
  •        Pengalaman Kerja
  •        Pengalaman dakwah (biasanya untuk yang ads, adk, atau anak mentoring)

Note : di proposal taaruf better kalau alamat rumah dan nomer hape para objek taaruf disembunyikan sementara, kalau ternyata proses lanjut ke tahapan yang lebih, baru nanti alamat sama nomer hapenya akan diinfokan. Tujuannya untuk meminimalisir kontak, plus kan tengsin kalau ternyata ngga jadi lanjut tapi udah simpen simpen nomer hape, bisa jadi bahan buat kepo kepo gitu via wh*tsapp.

Kenapa pula ada poin pendidikan, prestasi, pengalaman organisasi dan kerja di proposal taaruf? 
Hoo jangan salah, ini poin penting. Remember about zonk couple di post-an sebelumnya? Menuliskan prestasi dan value kita (which is bisa diliat dari pengalaman hidup baik di organisasi atau kerjaan) di proposal taaruf akan memberikan informasi mengenai seberapa preciousnya kita, dan ini merupakan daya tarik tersendiri. Dan siapa yang ngga suka dengan pasangan hidup berprestasi yang bisa dibanggakan? 

Deskripsi Diri

Isinya tentang deskripsi diri para objek taaruf. Fisiknya seperti apa, karakter secara umumnya gimana, kelebihan dan kekurangan dirinya apa aja, dan cacat/ bekas luka / penyakit bawaan yang ada.  

Mengisi bagian ini agak menantang sebenernya buat saya, haha. Karena istilahnya, inilah bagian yang pasti bakal dilihat dan dicermati oleh si lawan taaruf. Perasaan ngga pede menyeruak tiba-tiba, takut dan khawatir kalau ngga berhasil taaruf karena kesalahan penulisan di bagian ini. Pengen banget deh bisa nyembunyiin bagian – bagian diri yang ngga sempurna, ya bagian fisiknya, ya karakternya, ya kekurangan dan cacatnya, tapi hiks sayangnya ngga bisa T_T.

Mau bohong? Lah sayanya takut, menikah kan harapannya for a life time, haruskah dimulai dari kebohongan? Lagipula, kalau hanya menuliskan yang baik dan ternyata setelah menikah nyatanya kita tidak seluarbiasa ekspektasi dari yang dituliskan bagaimana? So, saya memutuskan untuk menuliskan se-apa-adanya-saya-tapi-tetap-dalam-bahasa-yang-masih-enak-dipandang-mata. Contohnya : di bagian ‘kekurangan diri ‘ instead of menuliskan cerewet, saya tulisnya rame, ngga rapih = disorganized, labil hati = moody.

Kalau tentang kelebihan diri, silakan menuliskan kelebihan diri dengan objektif. Jangan sampe terlalu lebay dan menimbulkan keheranan karena kenyataan didepannya tidak demikian. Misal ditulisnya : saya orangnya sabar, terus kalau kenyataannya di pernikahan besok, kitanya hilang sabar (karena banyak faktor) kan jadi maluuu, bakal sering disindir, hihi. Cukup dituliskan poin yang emang menonjol banget dari diri kita dan sudah sering dipuji banyak orang karena hal itu. Tapi juga jangan sampe ngga menuliskan apa-apa. Saking rendah hatinya, terus ngga menuliskan kelebihan apapun, jangan yaa, nanti dikira kita emang ngga punya kelebihan.

Tentang deskripsi fisik, nah ini. Ini nih, sodara-sodara. Paling menantang! Harus banget nyebutin tinggi dan berat badan tanpa ada pembulatan untuk dilebihin tingginya atau dikurangin beratnya yaa. Ahahaha. Udah, apa adanya aja, jujur gengs jujur. Pasang muka badak, hehe. Jangan khawatir dibatin kerempeng, atau gembrot, atau pendek, atau jangkung, atau buntal. Lawan yang mau taaruf insyaallah dikasi wejangan untuk tidak menceritakan aib kita pada orang lain. Jadi ditulis seapa-adanya. Kalau jerawat banyak dan bekas jerawatnya berjibun, juga teteup ditulis yaa #mukabadakpokoknya. Warna kulitnya jangan lupa, dan berkacamata/ngga.

Eh, bagian yang terpenting adalah tentang cacat fisik/ penyakit bawaan/ bekas luka yang permanen yaa. Silakan ditulis sesuai kenyataan yang ada, jangan sampai ditutup-tutupi dan membuat seakan akan kita baik baik saja. Kalau sampai kedepannya ketahuan dan pasangan kita merasa terbohongi, itu bisa bahaya. Semisal kalian beneran ngga punya ya Alhamdulillah, you’re so lucky.


Latar Belakang Keluarga

Disini tempatnya cerita tentang keluarga kita. Siapa Ayah, Ibu kita, apa pekerjaan dan aktivitas beliau. Berapa dan siapa saja saudara kandung kita. Sebisa mungkin ditambah juga dengan sekilas karakter dan sifat – sifat mereka semua dan bagaimana hubungan mereka dengan kita, dekat atau tidak. Tujuannya sebagai gambaran untuk lawan taaruf tentang keluarga kita.


Perjalanan Hidup 



Ceritain sekilas tentang perjalanan hidup dari lahir, sekolah, kuliah, sampai saat ini. Apa yang paling berkesan buat kita, kasih tahu alasannya apa. Supaya lawan taaruf tahu seberapa indahnya masa kecil dan proses mendewasa kita.


Orientasi / Rencana Kedepan



Ini termasuk poin penting dalam taaruf. Disini ditulis tentang rencana kedepan kita sebagai individu. See, sebagai manusia bebas yang akan menikah, kita berhak mengkomunikasikan apa yang jadi mimpi kita sejak kecil. Yang dokter kalau mau buka praktek ditulis, yang pengen lanjut S2 juga ditulis disini, yang pengen kerja dan really serious about it juga ditulis, yang pengen berwirausaha, atau pengen totalitas jadi ibu kece dirumah yang nantinya bakal mempersiapkan seutuh jiwa raga mengasuh generasi masa depan bangsa juga bisa ditulis.

Pun bisa juga ditulis, kota ideal untuk tempat tinggal, rencana ingin memiliki berapa anak, dll. Perempuan berhak mengkomunikasikan apa yang jadi mimpi, aspirasi dan keinginannya. Dari tulisan inilah nanti, pihak pria atau lawan taaruf akan beradaptasi, akan menimbang dan menilai, akan bertanya pada hati nurani mereka, sanggup tidakkah, bersedia tidakkah, ridho tidakkah mereka menerima kita menggapai itu semua. But silakan untuk tetep diingat, bahwa mengkomunikasikan keinginan bukan berarti harga mati. Nantinya setelah menikah yang ada bukan lagi keinginan pribadi, tapi sudah jadi mimpi bersama. Pencapaian dan bahagia bukan hanya milik kita, tapi semua sudah diraih berdua. Yang penting penerimaannya dulu.

Setelah penerimaan itu datang, sisanya bisa dilalui setelah menikah dengan ikhtiar dan berdoa. Oya, sedikit tips, kalau poin tentang keinginan, plis nulisnya yang rasional – rasional aja ya. Jangan sampai ini jadi boomerang buat kita karena menuliskannya : AKU BERMIMPI JADI DIREKTUR PERUSAHAAN. Hehe, cowok keder juga kali digituin, silakan ditulis dengan bahasa yang rada halus : Saya tetap ingin bekerja/berkarya setelah menikah. Masalah kerjanya terus jadi direktur perusahaan itu bisa dibahas dibelakang, hehe.


Kriteria Pasangan


Eng ing eng, sampai jugaa dipembahasan tentang kriteria. Uyeah. Ada yang excited? Menurut saya, menuliskan kriteria pasangan beda halnya dengan tulisan di poin deskripsi diri. Aura sama bebannya berasa beda. Kalau di deskripsi diri adanya beban, pusing mikir kalimatnya, banyak paranoidnya. Begitu di kriteria pasangan, coba deh tanpa piker panjang, pasti bakal lancaaar banget nulisnya. Kriteria Pasangan yang aku mau adalah  :

  1. Soleh
  2.  Pengetahuan agamanya luas
  3.  Pinter, cerdas
  4. Lulusan univ ternama Indonesia
  5. Lanjutin S2 di luar negeri
  6. Mapan
  7. Kerjanya di tempat bonafid
  8. Baik hati
  9. Ganteng
  10. Tinggi
  11. Badan atletis
  12. Rajin nabung buat beli rumah, beli mobil
  13. Kulitnya putih
  14. Senyumnya manis
  15. Giginya putih, rapi
  16. Humoris
  17.  Penyayang
  18. Pengertian
  19. Penyabar
  20.  Tanggungjawab
  21.  Berjiwa pemimpin
  22.  Ngga cemburuan
  23.  Bukan anak mama
  24.  Ngga manja
  25.  Siaga 24 jam
  26.  Ngga merokok
  27. Setia
  28. Bisa masak
  29. Dst
  30. Dst


See? Setuju sama kriteria diatas? Banyak kan yang bisa ditulis kalau soal menuntut? Kita lebih gampang menuliskan poin untuk kriteria pasangan daripada poin penilaian tentang kekurangan diri.

Yas, itu problemnya. Disitu letak problemnya~~. Banyak taaruf gagal karena masalah kriteria calon pasangan. Habisnya kadang sebagai manusia kita nuntut pasangannya ngga kira-kira. Padahal begitu mau nulis kelebihan diri bingung, lebihnya dimana, nulis kekurangan diri bingung, kenapa kurangnya banyak banget, hihi *pengalaman.

Nah terus gimana dong nulis kriteria yang oke? As you all know, dikembalikan lagi sesuai syariat. Dari Rasulullah kriteria calon pasangan itu ada empat :
  1. Dari agamanya
  2. Dari parasnya
  3. Dari hartanya
  4. Dari keturunannya

    Tapi hadis itu ngga cukup sampai disitu, ada lanjutannya :

    Dari keempat hal tersebut, maka utamakan memilih agamanya. Jadi, ngga salah kalau milih yang ganteng cantik, yang kaya dan anaknya orang terpandang, asaaaaaal lepas dari itu agamanya bagus. Ingaat jika ada seorang laki – laki datang kepadamu yang telah kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dan jika tidak maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar (HR Tirmidzi).

    Yap, intinya silakan menuliskan kriteria yang syar’I tanpa menafikkan kebutuhan pribadi kita tentang pasangan. Kalau saya ketika proses hanya menuliskan lima syarat (yang menurut saya amat sangat dikit dan super syari, tapi begitu tahu syarat dari lawan taaruf. Cuma dua biji, langsung tertohok, telak. Makin sedikit syarat imho, semakin menunjukkan kepasrahan si objek taaruf terhadap ketentuan Allah. Lebih banyak bonusnya  insyaallah. Kondisinya sama dengan ketika kita seorang bos terhadap bawahan. Kepada  bawahan yang banyak menuntut syarat dan meminta, maka kita akan memberi sebatas apa  yang kita ikhlas, hamper mustahil memenuhi seluruh keinginannya. Beda halnya ketika bertemu bawahan yang sangaat manut, permintaannya tidak banyak, rasa hati kan pengen  memberi banyak bonus. Wkwk.

    Paras akan menua, harta bisa saja habis, nasab dapat jadi fitnah, Cuma agama yang akan melindungimu. Pasangan yang agamanya baik, akan berusaha sebisa mungkin menjadi sosok pasangan sholih/ah, melakukan yang terbaik untuk mendapatkan ridho Allah dan tidak akan menyiakan-nyiakan kita insyaallah.

    Wallahu'alam bishawab...( to be continued... )

    Stay tune for the next feed! Rencananya akan membahas ttg sesi tanya jawab dalam taaruf, doakan bisa update cepat dan rajin biar bisa selesai membahas taarufnya, wkwk.



Continue Reading...

May 12, 2016

Tentang Taaruf




cr : as written

Ingat di post sebelumnya saya membahas bahwa 2016 itu menjemput kedewasaan?
What was that actually about? 
Okay, so here it was~
You know what so wonderful about 2016 for me? 
It was about the change of my status! 
From being single to be a married woman and skip the entire phase of relationshipWoohoo!! 
Yeah, like you guess, literally I married a stranger this year via ta’aruf process, 
and hopefully it will last till the end of our day. Aamiin.

Omooo, ta'aruf?!
Nikah sama orang asing, ngga takut? Bedanya apa dong sama beli kucing dalam koper?

Continue Reading...

November 09, 2014

Reuni, Lagi




Ada apa dengan Cinta 2014


Beberapa waktu ini dunia sekitar saya sedang dihebohkan dengan munculnya 'Ada apa dengan Cinta 2014'~~ As a young adult who had already reached her puberty when that phenomenal film released, wajar lah kalau saya ikutan heboh juga. Baru 2 hari viewernya sudah jutaan umat. Hanya 10 menit beberapa detik tapi menggemparkan Indonesia, jadi trending topic di world wide pula. 


Pertanyaannya kenapa? 
Karena ini tentang 12 tahun setelah di tahun 2002 Rangga - Cinta berpisah di Bandara, 
Cinta mengantar keberangkatan Rangga ke Amerika, dan Rangga meninggalkan Cinta (begitu saja) di Jakarta. 
Kalau berpisah 12 tahun lalu kenapa? 
Kami ingin tahu!
Ingin tahu tentang apa?
Tentang lanjutannya, tentang ceritanya, memangnya tentang apa lagi?
Memangnya berlanjut?
Jelas berlanjut!
Apa lanjutannya?
[.....................................................................................................]


Nah, bingung kan apa lanjutannya? 
Karena, to be honest, dalam iklan line yang 10 menit cetar membahana itu tidak ada kelanjutan apapun kecuali mereka berkomunikasi lagi. Yap, komunikasi, welcoming you to the era of smartphone, 2014. Apa yang spesial dari ini? Nope, biasa saja. Sebiasa dan sewajar kita semua yang memiliki smartphone dengan aplikasi chat tanpa pulsa yang bisa menembus batas ruang dan waktu. [ehm, jadi jelas kan kalau purnama di new york dan di indonesia itu tidak berbeda? Kita sudah menembus batas ruang dan waktu, hihi]

Kembali bertemu denganmu setelah sekian lama, melewati jarak, waktu, kesibukan dan kesempatan yang memisahkan kita.
That's it saya kira.
Itu jawabannya kenapa demam AADC 2014 yang diidap oleh sekian juta mantan remaja menghasilkan gaung simpulan agar iklan ini diangkat secara serius ke layar lebar.
Kembali bertemu denganmu - apa arti lainnya? Reuni!
Continue Reading...

September 21, 2013

Amnesia

Tahu writers block? 
Fenomena yang menyerang para penulis ketika ilham menulisnya mampet dan tidak bisa dikeluarkan. Yang akhirnya membuat ide-ide dan karya-karya baru tidak lagi dihasilkan. 

Pernah mengalaminya? 
Meskipun bukan penulis, tapi saya sering sekali mengalami itu (poor mee T_T). 

Pada kasus saya, hal itu biasanya terjadi saat saya bersemangat menulis, tapi tiba-tiba harus terhenti karena sesuatu dan tidak segera melanjutkan tulisan saya yang menggantung. Begitu sudah sekian lama, harus dimulai menulis lagi, maka saya bingung. Karena sesaat setelah saya menghentikan alir tulisan saya tanpa memberi lagi keterangan mengenai ide selanjutnya, maka saya seakan kehilangan mata rantai penyambung. Simpul itu mustahil terkait, dan tulisan itu susah untuk dilanjutkan. Unless i have a new idea untuk mengeles dan membelokkan alur dari apapun yang dulu pernah saya tulis. 

Ini contoh realnya : 

tertulis di draft blog ini pada tanggal 17 Desember 2009, tulisan yang saya buat di akhir semester pertama kelas 3 SMA, judulnya : Desember 2034, Lihat Saja Nanti !

saya sendiri yang menulis bingung, memang di Desember 2034 apa yang bakal saya perlihatkan untuk dunia? Bingung dan bertanya-tanya akhirnya saya klik dan saya mulai membaca ulang tulisan yang ngendon hampir 4 tahun di draft blog (untung blogger tidak pakai acara gulung tikar, atau saya akan kehilangan calon-calon tulisan keren, hehe) dan inilah isinya : 

Siapapun pasti pernah terusik untuk membayangkan jadi apa mereka berpuluh-puluh tahun kedepan. Jangankan kita yang sudah dewasa, gadis kecil berkuncir kuda pun pasti akan menjawab mantap dengan sebutan yang kedengarannya seperti 'dokter' ketika ditanya ingin menjadi apakah kelak ia di masa depan.

Tapi, bagaimanakah dengan orang-orang yang sudah 'berada di masa depan'? Tentu yang dimaksud di sini adalah mereka yang usianya tinggal satu dekade ke arah setengah abad, atau lebih. Apakah masih penasaran dengan masa depan mereka, menjalani dengan biasa saja tanpa berfikir ke depan atau kebelakang, atau mungkin ingin sekali kembali ke masa-masa remaja?

Untukku, biarkan saja itu menjadi rahasia waktu, yang kan terkuak tirainya seiring guratan kerut usia.

Pikirkan kembali semua pertanyaan itu nanti.

Sekarang, biarlah aku bercerita sebuah kisah kekaguman, akan sesuatu yang 'borderless' istilahnya (ini saja kalau saya boleh meminjam istilah iklan salah satu brand alat elektronik yang menjual teve), yang tidak pernah terbatas oleh pertanyaan pertanyaan itu.

Pertengahan 80 mereka bertemu, Tika, gadis manis dengan rambut pendek sebahu dan Ali pria sederhana yang hendak menuntut ilmu. 
Dibalut seragam putih biru lah mereka saling mengenal untuk kali pertama. 
Saling menukar nama, tempat tinggal dan asal pendidikan yang lalu.

Tahun pertama, setelah adaptasi dengan berbagai hal di wilayah baru, senyum, sapa, cerita, dan perhatian mulai dibagi. 
Beranjak di tahun kedua, ruang kelas menjadi saksi pertemanan itu semakin nyata. Seorang gadis rajin dan pintar yang kerap kali menduduki peringkat pertama (siapa lagi kalau bukan Tika) selalu terlihat ceria bersama remaja lelaki yang suka bercanda itu (tentu dia-lah Ali) 
dan meski tahun ketiga mereka berpisah, silaturahmi itu tetap terasah. 
Segala hal yang mereka bisa bagi dan simpan, pasti mereka lakukan.

Ternyata nasib belum mau memisahkan mereka. Bangku lebih tinggi mereka duduki di tempat yang, lagi lagi sama. Sebuah sekolah menengah atas terfavorit di wilayah kecil nan damai, di kota mereka. Mimpi-mimpi itu terjalin lagi kali ini bertautannya lebih erat. Masa remaja yang lebih dewasa mengantarkan mereka pada arti-arti nyata hidup dan perjuangan.

Tak hanya di sekolah, tawa riang dan cerita yang dibagi mulai merambah ke rumah. Tempat tinggal Tika yang sangat sederhana tapi nyaman itu mulai dijamah. Ali kerap kali berkunjung ke sana, bukan meminjam catatan, tidak mengerjakan PR bersama, dan tidak pula....

Dan tidak pula apa? Tulisan itu terhenti begitu saja, mendadak dan tiba-tiba. 
Saya pun lupa, have no idea, hilang ingatan dan amnesia 
mengenai asal usul, ataupun asal, dan kelanjutan tulisan ini :(  

Saya saja sempat terkena mental breakdown dan bertanya-tanya, 
benar ini saya yang menulis? Haha
Tapi, hei, coba baca ulang quite lovely, kan?

Jelas, dulu dengan tulisan ini saya sedang ingin menuliskan tentang cinta dan masa depan. Ingin sok-sok bijak dengan mengait-kaitkan antara takdir dan kejelasan kehidupan mendatang. 

Menurut tebakan saya, cerita ini dulu saya tulis berdasarkan kisah nyata seseorang yang dekat dengan saya. Tapi setelah saya pikir-pikir lama, saya tidak ingat punya orang dekat yang bermasa lalu seperti itu.

Nama Tika dan Ali pun *saya yakin* adalah nama samaran yang saya buat untuk menyebut dua sosok nyata yang sayangnya sekarang saya tidak ngeh mereka siapa. 

Parah.

Continue Reading...

Find Me !

Facebook  Twitter  Instagram

Blogroll

About

a complete pack of girl-turn-to-woman in her 20's something