Showing posts with label karyaku. Show all posts
Showing posts with label karyaku. Show all posts

November 09, 2014

Reuni, Lagi




Ada apa dengan Cinta 2014


Beberapa waktu ini dunia sekitar saya sedang dihebohkan dengan munculnya 'Ada apa dengan Cinta 2014'~~ As a young adult who had already reached her puberty when that phenomenal film released, wajar lah kalau saya ikutan heboh juga. Baru 2 hari viewernya sudah jutaan umat. Hanya 10 menit beberapa detik tapi menggemparkan Indonesia, jadi trending topic di world wide pula. 


Pertanyaannya kenapa? 
Karena ini tentang 12 tahun setelah di tahun 2002 Rangga - Cinta berpisah di Bandara, 
Cinta mengantar keberangkatan Rangga ke Amerika, dan Rangga meninggalkan Cinta (begitu saja) di Jakarta. 
Kalau berpisah 12 tahun lalu kenapa? 
Kami ingin tahu!
Ingin tahu tentang apa?
Tentang lanjutannya, tentang ceritanya, memangnya tentang apa lagi?
Memangnya berlanjut?
Jelas berlanjut!
Apa lanjutannya?
[.....................................................................................................]


Nah, bingung kan apa lanjutannya? 
Karena, to be honest, dalam iklan line yang 10 menit cetar membahana itu tidak ada kelanjutan apapun kecuali mereka berkomunikasi lagi. Yap, komunikasi, welcoming you to the era of smartphone, 2014. Apa yang spesial dari ini? Nope, biasa saja. Sebiasa dan sewajar kita semua yang memiliki smartphone dengan aplikasi chat tanpa pulsa yang bisa menembus batas ruang dan waktu. [ehm, jadi jelas kan kalau purnama di new york dan di indonesia itu tidak berbeda? Kita sudah menembus batas ruang dan waktu, hihi]

Kembali bertemu denganmu setelah sekian lama, melewati jarak, waktu, kesibukan dan kesempatan yang memisahkan kita.
That's it saya kira.
Itu jawabannya kenapa demam AADC 2014 yang diidap oleh sekian juta mantan remaja menghasilkan gaung simpulan agar iklan ini diangkat secara serius ke layar lebar.
Kembali bertemu denganmu - apa arti lainnya? Reuni!
Continue Reading...

Reuni








Pada masa lalu tersimpan engkau
bayangan yang melabuhkan cinta
me-nge-ja asa, menoreh luka.

Waktu tanpa kepastian
bosan, salah paham tiada arti
jalinan terurai
nyata terasa, berbeda

Tak apa
Mendewasa

Hingga di suatu pagi
janji ditepati, rindu terobati
aku dan kau,
kita
bertemu untuk berdamai

selamat tinggal
selamat datang
selamat jalan

Dalam diam, sunyi berbisik
menyelipkan syukur atas rangkai cerita
terkenang hingga habis masa


Continue Reading...

September 24, 2013

Sajak Mimpi








puluhan kali melewati padang ilalang di malam sunyi, 
hiraukan lampu, puas ditemani deru motor dan galaksi bimasakti

mendaki tempat tertinggi, berkejaran dengan ombak, 

terbenam dalam pasir, menjejak kerikil

kiramu menantang adrenalin itu hidup yang nyata, tapi bagiku itu gila 
aku berteriak dan kau tertawa bahagia

Continue Reading...

June 03, 2010

Cinta Kematian, Mati Tak Memisahkan Cinta



Cinta Kematian
mati tak memisahkan cinta. 

Suatu hari nanti, pada kematian yang dekat,
berjanjilah kepadaku, kau akan lanjutkan hidup.
Tajam kilat mata beningmu tak boleh meredup.

Katakan padaku, kau akan tetap tertawa lepas
bahkan terbahak, hingga terbungkuk-bungkuk.
Menangislah untukku, sedikit saja.
Jangan sampai meninggalkan sisa noda,
di sudut mata mu yang memesona.

Suatu hari nanti saat kematian bercakap,
simpan aku sebagai kenangan, tak lagi seutuh badan.
Peluk semua tentangku, dalam dekap hangat hatimu.
Namun, sisakan lapang hatimu untuk penggantiku.

Bukan kita meminta pada Tuhan
untuk mengambil siapa yang pertama.
Bukan jahatku menjadi gilirannya.
Tapi aku jahat, kalau kepergian ini membuat cinta menderita.

Jangan tanya pula mana yang lebih salah.
Menemukanmu begitu terlambat,
ataukah kepergianku yang teramat cepat?

Aku akan menemanimu,
saat kematian telah lewat.
Menawar candu rindu dengan senyum, tangis, tawa
dalam hidupmu selanjutnya yang dibagi bersama.

Aku diantara bahagiamu bersamanya.
Aku diantara cintamu untuk mereka.
Aku diantara hatimu dengan Sang Pemilik Cinta.

Aku akan menjemputmu,
setelah kematian selesai bercerita.
Kembali, untuk tetap setia.
Nantikanku...

(ditulis karena tiba-tiba kematian berkelebat di depan mata)
Continue Reading...

July 27, 2009

c a h a y a

Cahya terperangah di sela tidurnya yang lelap.
Igauan bukan lagi sekedar kebetulan.
Matanya nyalang menyala, tak ditemui sejentik pun pelita dalam gelapnya yang nyata.
Dalam rabanya tak dirasa ada sesuatu yang membuat lega

“Di mana aku?” tanyanya retoris. Senyap.

Keretorisan itu terjadi bukan karena pertanyaannya tak butuh dijawab,
lebih karena tak ada yang menjawab.
Dalam bulatan matanya, hanya hitam saja yang berkenan menyapa, bahkan derik nyanyian jangkrik tak ada meski sekedar mengusik.
Kepanikan melanda.
Kegelapan? Sesaat otaknya berputar menandakan dia berfikir.
Kenapa bisa? Kenapa harus gelap? Bukankah dia ada? Eh, sebentar…memangnya dia ada? Sebagai apa?
Benda real-kah?

“Heii…Aku cahya! Aku Cahya. Cahya tak pernah berkenalan dengan gelap. Karena selalu ada cahaya untuk gelap! Lagipula aku tak pernah kalah dengan Tuan Gelap…”

Malang sekali nasib Cahya dalam pikiran kalutnya saat itu.
Dia bingung. Kalau memang secara real dia ada, lantas kenapa gelap masih mengelilinginya jua? Apa salah sistem yang merupakan sunatullahMu itu Rabbi? Cahaya kan ada untuk mengusir gelap, tuntutnya tidak terima.

Halooo…Tuan Gelap?? Cahya mulai berdiri. Tangannya membentuk gerakan menyentuh di depan. Dia mulai menggapai arena disekelilingnya. Ah, celaka! Cahya lupa, ada satu hakikat cahaya yang terkadang dilupakan banyak orang. Gelap bisa tersinari dan hilang karenanya, tapi sekedar dalam lingkupnya saja. Cahaya tak pernah bisa bertahan dalam satu titik yang kecil jika mau melawan pekat gelapnya keadaan. Gelap tak tertembus dengan itu. Ia butuh ribuan cahaya menemaninya.

Oh God, what should I do then??? Cahya mulai berkeringat dingin. Khawatir. Khawatir akan amanahnya, khawatir akan tugas pentingnya sebagai pelita untuk menerangi. Tapi lihat, melihat bagian dirinya saja serasa mustahil saat ini. Haruskah Rabb? Haruskah aku mengalah pada gelap? Gelap muncul karena ketiadaan cahaya, pada hakikatnya tak pernah ada gelap, sebab itu hanya sekedar penggambaran keadaan di mana tak ada cahaya.

Pendar mulai meredup. Bias warna melemah, lelah sekali sepertinya Cahya mempertahankan eksistensi keberadaan dirinya. Ya Rahiim …rindunya membuncah. Ia rindu akan jutaan cahaya yang biasa ada menemani. Sebal akan gelap yang tak berujung pelita. Risih dengan cercaan bahwa Cahya tak bisa melakukan tugasnya.

Ia bungkam dalam desau rasa tercekam. Sudahlah tak perlu dibawa pusing, menyerah dalam keadaan. Bukan, bukan menyerah dalam arti yang sebenarnya. Biarkan saja seperti ini. Gelap, gelap yang menggantungkan harap. Toh, masih menggantung, tidak memenggal. Dan cahya pun menunggu, di penantian kerlip lemahnya, bertahan karena hanya ada sesuatu yang bercokol kuat. Apa itu? Keyakinannya bahwa tak pernah ada gelap, gelap hanya karena ketiadaan cahaya, dan faktanya ia masih ada, lemah memang, tapi akan diatahan sampai datang rahmatNya.
Milyaran cahaya, dari galaksi, bintang, planet dan mentari akan menyambutnya dalam fajar di ufuk jagat. Kali ini biarkan dia yang berkorban,

Cahya.


Dalam rindu akan terang di ufuk fajar yang melibas semua gelap tak berharap.
Continue Reading...

February 01, 2009

Segemerlap Bintang

Terperangkap dalam cahaya gelap,
bersamaan dengan luapan perasaan yang tak tersingkap,
terlalu lama, terlalu lemah.
Hingga jadi hal semudah biasa.
Padahal, di bibir jurang galau ada tumpukan keping risau.
Meruncing dengan tajam,
melemahkan secara kejam.

Getar ini bukan mainan, tak bisa seenaknya diremehkan.
Menyentuh, berarti atasnya bertanggung jawab seluruh.

Meski begitu, ramalan menuai nyata.
Untuknya, dia ada dan tak tersangkal.
Menyisihkan semua gigih usaha,
menjadikannya tak ada guna.

Karena, rasa terlukis dengan keping hasta sejuta warna,
dan
tak terhubung oleh sehelai pun logika.

Tapi, biarlah, toh bukan cinta kalau itu dituntut paksa.
Maka, jika ada sepucuk kata menyerah,
bukan berarti aku kalah.
Aku sedang berusaha menang,
untuk dicintai segemerlap bintang.
Continue Reading...

December 11, 2008

Bidadari yang Tak Akan Terganti

lama terdiam, memimpikan sesuatu yang tak wajar.
apa itu gerangan?
. . .
menikam diri, dan ber-reinkarnasi, setidaknya menjadi bayangan bidadari.

tik, tik, tik, detik berderik

sepiku terusik, malaikat bijak bertanya, "ke manakah bayangmu?"
senyum sinis menyapanya, "Mati. Dalam derita rasa iri. "

malaikat bergeleng, tak puas dan jengkel karena ketus jawaban dariku
"Lantas apa yang bersinar redup di hatimu kalau begitu?"

dengan sangat halus cermin raksasa bergerak menghampiri
menuju tepat ke arah mata ini memandang

aku berkaca dan tersadar
bayangan ini bukannya pudar,
tapi memang tersamar
oleh kecemburuan yang kian menjalar.

dari bilik sebelah kiri seseorang meneriakiku, kaget kutoleh wajah, tapi tak nampak siapapun sampai batas cakrawala memandang.

"Sampai kapan kau akan bertahan
dengan segala yang kaupaksakan untuk tenggelam
sedang pelita aura itu tak kau biarkan bersinar?"

"bukan mentari yang kami tuntut,
menjadi yang baik dan sesuai syarah sudah cukup.
bukan bidadari yang kami inginkan
seseorang yang tangguh dan selalu bersyukurlah yang kami dambakan"

selesai suara itu, lalu hening beberapa lama

ada bisikan kini,

"Tak perlu gunakan iya
jika 'tidak' juga masih berguna."

"Jangan berlari memburu bidadari,
bahkan ribuan bidadari pun tak kuasa mengganti
sekubik keping hati yang punya semangat memperbaiki diri.

KAU TAK AKAN PERNAH TERGANTI!!!"

melalui tanganNya kau tercipta
berarti, kaulah pengemban risalah cinta
bukan bidadari sempurna bertangan hampa

ada senyum merekah, dari bibir Malaikat bersayap putih
dia turunkan sayapnya, mendekati, membelai lembut wajahku

Dengan sangat perlahan dia ejakan kalimat ini

"Basuh kedengkian dan kecemburuan,
niscaya sinarmu seindah permata pualam."


Untuk semua yang pernah merasa cemburu pada bidadari.
Bersyukurlah!
Karena, sejatinya kaulah sang bidadari.
Continue Reading...

December 10, 2008

Gradasi : Sebuah Catatan Sejarah (puisi mode : on)

Gradasi : Sebuah Catatan Sejarah
untuk yang 'pantas' menjadi sejarah

mon cher, maaf kalau selama ini terlanjur kusimpan
sesuatu yang terlarang
terlarang dalam perjanjian.

gradasi ini bukan aku yang ingin
dia datang, acuh tak acuh dengan situasi,
mengobrak-abrik sepi bilik hati,
menelusup ke diri, memanggil tuk terus dinanti

salah memang,
ya, memang salah.
membuatnya subur tak tau arah
sebab sudah terlanjur dirasa indah

tapi telunjuk itu jangan arahkan padaku!
aku juga tak tahu menahu.

seiring kibasan sang waktu
kesalahanku hanya satu,
tak berani mengiris luka sembilu,
saat bahagia sedang tumbuh, baru.

sengaja tak segera kupotong rambat akar yang tumbuh memanjang
alih-alih kubiarkan menghujam, menukik,
. . .
yang kini menyesakkan,

sengaja tak segera kucincang batang yang melenakan
. . .
karena aku merasakan euforia keindahan
semu, tapi sesempurna lazuardi biru.

and . . . mon cher,

lihat sekarang...
tak bisa kuperbuat banyak hal.
tersisa hanya sepenggal nafas yang memaksa berjejal
menemani labirin sepiku, menggantung, gamang.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Continue Reading...

Find Me !

Facebook  Twitter  Instagram

Blogroll

About

a complete pack of girl-turn-to-woman in her 20's something