Showing posts with label cantik. Show all posts
Showing posts with label cantik. Show all posts

February 08, 2014

Menyembuhkan jerawat dari akarnya !




Jerawatan? Pusing karena jerawat? Tidak juga sembuh setelah mencoba hampir semua produk yang ada?
Coba kenali lebih dalam mengenai jerawatmu. 
  1. Kenali lebih dalam mengenai tipe jerawatmu (sekedar komedo, atau jerawat batu, atau meradang/bernanah).
  2. Kenali juga tipe rambutmu (rambut berminyak atau rambut kering) 
  3. Kenali hormon tubuhmu. Bagaimana siklus jerawat itu muncul. Apakah bersamaan dengan tamu bulanan, bila tubuh dan pikiran stress atau muncul setiap hari sepanjang tahun apapun kondisinya. 
  4. Evaluasi kegiatan harianmu. Seberapa sering debu dan kotoran memapar tubuh. 
Dengan 4 poin itu seharusnya sudah cukup untuk memberikan jawaban mengenai akar masalah jerawat. Kalau sudah ditemukan jawaban keempat hal itu, segera konsultasikan, maka akan lebih gampang untuk pengatasannya. 

Jerawat itu sebaiknya dikonsultasikan dengan siapa?
  1. Dengan dokter kulit! Bukan dengan dr. umum di klinik klinik kecantikan lho! Saya ulangi : dengan dokter kulit yang punya gelar SpKK (Spesialis Kulit Kelamin)
  2. Biar lebih mantep : pergi ke tempat praktek dokter kulit (yang biasanya buka sore/malam hari), bukan di salon kecantikan.
  3. Kalau bisa, cari dokter yang dia juga bekerja untuk RS terkenal di daerah kalian. Atau kalau kalian tinggal di kota besar yang punya Fakultas Kedokteran ternama, cari dokter kulit yang merangkap menjadi dosen di sana.
Continue Reading...

September 21, 2013

Make effort. Make mistake. Disaster




Di depan Serambi Masjid Tempat Resepsi

Usia 21 means rentetan undangan hari bahagia menyapa, 
dengan namamu tertulis manis di balik amplop plastiknya.

Wedding. Njagong.

Dandan cantik.

Memantaskan diri depan publik.

Ouch.

Dan demi menjaga silaturahmi plus menghormati yang punya hajat, bolehlah saya make a little effort untuk terlihat berbeda di hari bahagianya. Dengan apa? Apalagi kalau bukan dengan dandan manis for a whole day. Itu harapannya.

Jadi beberapa waktu yang lalu saya ngebet banget ingin membeli satu set alat make up untuk logistik kalau-kalau dapat undangan walimah. Kenapa beli? Alasannya sangat simpel : karena dirumah saya tidak ada make up lengkap. Ibu hanya mengoleksi bedak tabur 1, two way cake 1, lip balm 1, lipstik 1, pensil celak cokelat 1, dan sisir alis. Done. No more. And plain. Tidak ada yang namanya foundation atau blush on dan eye shadow. Eye liner dan mascara apalagi.

Kebetulan sabtu awal september saya dapat undangan ke bogor untuk menghadiri walimahan teman KKN saya, nah kesempatan yang tepat bukan? Dari hari selasa saya sudah planning untuk hunting make up, sudah melihat-lihat brosur plus katalog, tapi hingga hari kamis hasilnya nihil dan saya galau (galau karena saya ternyata tidak rela keluar uang untuk beli make up yang mahal), finally, berujung pada keputusan untuk tidak membeli apapun. Huft. 

And....Berangkatlah saya ke bogor dengan hanya bermodal satu two way cake dan lip gloss.

Crop-cropan wajah plain ngga pake make up :D


The Day. Hari H.
Saya menertawai diri : kok ya plain banget ya muka satu ini. Haha

Untungnya ada teman berbaik hati (Shinta) yang merelakan seluruh peralatan kosmetiknya dipakai bersama. Dan mulailah project berdandan ria. Saya sih di dandanin tapinya :p

@kamar mandi masjid tempat walimahan,
result habis didandani Shinta (jilbab hijau)
But karena kita berdandan di tengah tengah acara, jadi dandannya kilat dan potong jalan pintas disana sini.

Skip part membersihkan mukanya, dilanjut pake foundation revlon, karena ngga ada bedak tabur, langsung tumpuk deh pake two way cake, kasi eyeshadow, eye liner (yang akhirnya dihapus karena hasilnya menceng dan ngga simetris satu sama lain) ditambah blush on, dan akhirnya lip gloss + lipstick dan lip shiningnya maybeline.


The result? Wajah sedikit ada warnanya, not the boring plain face from before, tapi ngga berarti saya menjelma bak bidadari. Biasa aja.

muka aneh habis dikasi make up :(

Oke, make up ini bertahan ampe 3 jam, dan menjelang zuhur nikahan selesai, saya segera cabut dari bogor untuk menuju kembali ke jogja. Otomatis langsung ngacir ke kamar mandi dan membersihkan make up yang ada. Berhubung ditunggu orang banyak, saya bersih bersih dengan amat efisien dan segera. Lap sana lap sini, guyur air, pyuk pyuk. Sudah selesai.

Dan perjalanan kami memakan waktu sehari semalam. Berangkat sabtu siang, sampai ke Jogja pagi jam 9, tapi karena badan meriang, sampai di rumah malah lupa segala hal yang harusnya dilakukan, seperti membersihkan ulang make up yang tersisa.

Karena for your information my dearly friend, biasanya saya selalu membersihkan make up dengan susu pembersih dan sabun cuci muka secara simultan selama minimal setengah jam (dengan asumsi make up berat seperti yang saya gunakan di buku tamu acara pengantin). Sedangkan kemarin, make up dibersihkan tidak lebih dari 10 menit. T_T 

Dan set, hari Rabunya, seluruh kulit di wajah saya berlomba mengeluarkan jerawat yang banyaknya tidak terhitung lagi. Di kedua pipi, di jidat, di dagu, di area hidung. Teksturnya tidak seperti jerawat saya yang biasaya, lebih seperti bintil bintil, peruntul. Yang jelas mengerikan L

(muka saya yang terkena after effect make up tidak perlu ditunjukkan)

saya sempat ingin pake cadar seperti ini 

Ini semua salah foundation yang menutupi pori dan susah sekali untuk dihilangkan. Muka saya jadi rusak T_T. Sampai sampai ustazah di rumah pun sebelum sholat ashar dengan bengongnya mengatakan saya jelek L

Aaaack. Nasib.





Tidak tahan lagi, maka wajah ini segera dilarikan ke tangan ahlinya. Bu dokter kulit langganan saya yang cantik sekali (seriusan, cantik.sekali. usianya diatas 60 dan kulit wajahnya masih kencang dan bersih) hanya tertawa melihat tingkah saya saat menjelaskan dan dengan santainya berkata :

Sudah saya bilang berapa kali mbak, jangan sering-sering lihat kaca. Kalau tidak sering ngaca kan mbaknya tidak repot dan heboh. Tidak perlu merasa butuh make up tebal. 

Auch. Jleb. Bu dokter ini logikanya bagus sekali.

Jadi, kesimpulan fixnya : tidak usah pakai make up atau apapun itu, karena trust me, rempong lalalala, harus sering-sering konsul ke dokter kulit, rusak dikit make upnya jadi senewen, ribet dan susah kalau mau sholat :(

kata para ukhti sholihah : pakai air wudlu aja, intaan~~~


ditemani krim malam jerawat dan putus hubungan dengan kaca


Continue Reading...

September 20, 2013

Genetik, Cantik and Just Merely Normal



Iri sama gadis-gadis ini, they are so beautiful :*

Kenapa wanita selalu menjadi sorotan publik mengenai fisiknya? Ini selalu menjadi pertanyaan besar bagi saya. Sunatulloh sih, tapi tetap saja, itu tidak nyaman. Khususnya bagi perempuan yang memang dikaruniai ‘nilai lebih’ di estetika penampilan fisiknya, as you know seperti saya.

Berayahkan lelaki dengan wajah ala tambang minyak yang penuh gundukan jerawat, bukan hal super kalo wajah saya punya deskripsi yang sama. Itu genetik. Syukur alhamdulillah, ibu saya dikaruniai wajah super jelita bagai bidadari langit, tapi sayangnya itu hanya berlaku saat beliau dipandang dari jarak minimal radius 50 meter, hehe. Karena jika Anda menyorot beliau lebih dekat, akan Anda temui satu wajah penuh dengan freckles, titik titik coklat susu imut yang memenuhi wajah putih beliau, well, kalo menurut saya sih not a big problem, since those freckles always made her semakin mirip bule, dan semakin cantik.

Maha Besar Alloh dengan segala ciptaanNya, seakan wajah saya belum seperti pinang dibelah dua dengan wajah Ibu (minus hidung jambu airnya Ayah) Alloh memberi saya cap alami agar saya sungguh terlihat sebagai anak kandung beliau berdua. Fix. Saya berjerawat dan ber-freckles. Anak ayah, dan anak Ibu. Saat jerawat bisa diajak kompromi maka saya seperti bule yang ndeso dengan kulit merah karena bekas samar jerawat. Dan bila jerawat tidak mau sembunyi, maka official, saya look like a monster L Haha.

Saya dulu sih masa bodo dan egepe dengan apa yang jadi omongan orang. Tapi lama kelamaan semakin bertambahnya usia dan melihat teman-teman disekeliling saya mendewasa dengan cantik, saya jadi berintrospeksi diri, and honestly menjadi ngga pede. Sebenarnya disayangkan, karena bukankah wanita terpilih itu bukan dilihat dari fisiknya? Nah betul sekali. Tapi perlu diketahui bahwa usia 21 tahun itu adalah usia krisis, dimana mau tidak mau, suka tidak suka, kelebat kelebat pikiran ‘ngga penting yang maen fisik’ muncul dan susah untuk dienyahkan.

Padahal kalau ditilik lebih lanjut saya sendiri bakal kewalahan bila harus menjadi pejuang cantik. Rela berlama-lama di depan kaca dan mematut diri dengan make up ini dan pernik itu. Mengorbankan banyak hal agar penampilan tetap menawan. Tapi kalau saya tidak memberi effort buat muka ini, kok ya kayak gadis ignorant, yang pemalas, yang tidak bersyukur dengan karunia yang sudah dilimpahkan oleh Rabbnya, dikaruniai basic lumayan tapi dianggurin dan panen jerawat pula.

I just want to be normal, without acnes or freckles.


Tapi ya it seems like you asked for life without any problems. Quiet impossible

masih harus terus belajar bersyukur
Continue Reading...

Find Me !

Facebook  Twitter  Instagram

Blogroll

About

a complete pack of girl-turn-to-woman in her 20's something